Rekonstruksi Hidup

Bookmark and Share

>> 7.30.2010

Tidak ada seorang anakpun yang terlahir didunia atas kehendak dirinya sendiri, bila demikian siapa yang berkehendak disitu ? Dimulai dari proses sebab akibat dan atas izin Tuhan Yang Maha Esa maka lahirlah seorang anak. Artinya terdapat kehendak Tuhan atas lahirnya seorang anak.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, hingga anak itu menginjak titik awal kedewasaan (ABG), mulailah ia berfikir dan kadang memberontak. Seringkali kita temui beberapa pesoalan yang terjadi pada 'ABG'. Salah satu masalah yang sering kita temui pada 'ABG' adalah merasa tidak adil. Si anak merasa diperlakukan berbeda dengan saudara kandung lainnya. "Kenapa orang tua saya tidak adil dan terasa kejam kepada saya?". Timbul kebencian-kebencian dan ketidak sukaan tertentu terhadap orang tua, si anak mulai mengabaikan 'budi baik' orang tua dan ditutupi oleh segala perasaan yang berkecamuk didalam dirinya.

Disinilah titik awal dimulai proses kehidupan secara nyata, memicu keinginan diri untuk menggali dan mempelajari sisi pribadi dan juga lingkungan yang mempengaruhi baik dari sudut orang tua, keluarga, teman sekolah , saudara, dan lain-lain dalam mencari jati diri. Namun apa hasilnya, tiap-tiap anak yang ia temui, mengatakan hal yang sama, pernah mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan dari orang tua. Seringkali perbuatan yang tidak menyenangkan menjadi hal yang biasa bagi dirinya, bahkan terkadang dapat dianggap menyenangkan.

Dengan bertambahnya usia dan kematangan dalam berfikir, timbul lah proses kesadaran diri, mulai tergugah ketika dia menemui kesulitan hidup yang teramat sangat, lalu ia menghadapi dan berhasil melewati kesulitan tersebut. Disatu sisi ia melihat temannya yang memiliki kesulitan hidup yang sama tetapi bukan bertambah baik melainkan semakin sulit dan mulai tampaklah ke frustasian.

Setelah peristiwa tersebut si anak tersadar bahwa justru 'kemudahan' yang ia dapatkan dalam menghadapi kesulitan ternyata akibat bekal 'perbuatan yang tidak menyenangkan' dari orang tuanya, sungguh menakjubkan. Dibalik kesulitan selalu ada manfaat dan makna jika kita jeli untuk merenungi.

Si anak mulai tersentak dan tersadar bahwa kehadiran ia didunia bukan kehendak ia sendiri, dan tidak juga dapat dipersalahkan proses sebab lahir dirinya yang diakibatkan oleh 'perbuatan orang tua'. Kesimpulannya memang sudah digariskan Tuhan kepada ia, proses kejadian hubungan anak dan orang tua yang dialaminya semua sudah bagian dari garis kehidupan dalam membentuk mental membangun kesadaran pribadi bahwa segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini termasuk hubungan anak-orang tua adalah merupakan bagian dari kehendak Tuhan, tidak ada seorangpun yang bisa melawan-Nya. Mungkin ini adalah fondasi Iman sesungguhnya.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.


Read more...

Read more...

Bila...

Bookmark and Share

>> 7.24.2010

Sekeras apapun batu jika ditetesi air terus menerus dapat mengikis.

Tentu saja kita semua tahu bahwa sebuah batu sangat sulit untuk dihancurkan, membutuhkan kesabaran dan membutuhkan tekad yang kuat.
Bagaimana bila 'Hati' kita menjadi sekeras batu ?
Ini yang paling sulit, mengapa kita mau menyiksa diri sendiri dengan bepikiran sekeras batu atau memiliki hati yang membatu ? sesungguhnya hanyalah menunjukan kebodohan kita !

Bila saja mau merenungkan tidak ada sesuatu yang tidak mungkin berubah di dunia ini. Bila saja kita mau untuk melunakan hati kita, maka kita baru akan bisa menerima siapapun yang datang pada kita, bisa menerima apapun yang kita peroleh dan dapatkan, bisa menerima saran dan pandangan untuk kemajuan kita dan bisa menerima bentuk perhatian orang kepada kita.

Mengapa harus membatu ?
Jika sebongkah batu saja bisa di hancurkan oleh air yang sangat lembut, mengapa hati kita tidak bisa ? Semua ada di tangan kita sendiri, sebelum membuat hati menjadi sekeras batu, lebih baik mencoba untuk mencairkan butiran-butiran air yang mulai mengkristal di hati, dengan memancarkan kehangatan cinta kasih dan kasih sayang dari pelita hati yang menerangi hati. Mencoba memberikan kehangatan dari rasa kebersamaan, kekeluargaan, persahabatan, keramahan, dari sebuah ketulusan di hati kita.


Atau tetap bersikukuh pada pendirian yang lebih keras dari batu karang ? tetapi hanya membuat penderitaan pada akhirnya ? atau tetap bersikeras sampai banyak orang yang terluka perasaan dan jiwanya termasuk melukai diri sendiri.

Atau sebaliknya mau membuat hidup lebih indah dengan kelembutan hati ? semua ada di tangan kita sendiri.


Read more...

Read more...