MALAPETAKA LIMA BELAS JANUARI (MALARI)

Bookmark and Share

>> 10.21.2008

Pada tanggal 15 Januari 1974 terjadi peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang melanda beberapa tempat di Jakarta. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari).

Peristiwa Malari terjadi pada saat Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka sedang melakukan kunjungan ke Jakarta dari tanggal 14 sampai dengan 17 Januari 1974. Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangan petinggi negeri sakura itu dengan melakukan demonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, tempat Tanaka akan mendarat. Namun, penjagaan ketat yang dilakukan aparat keamanan berhasil menggagalkan gerakan mahasiswa yang ingin menerobos masuk pangkalan udara itu.

Sehari setelah Kakuei Tanaka mendarat di Jakarta, gelombang unjuk rasa mahasiswa mulai bermunculan di beberapa kampus. Sejak pagi hari tanggal 15 Januari 1974 itu, ribuan mahasiswa berunjuk rasa dari kampus Universitas Indonesia di Jalan Salemba ke Universitas Trisaksi di kawasan Grogol, Jakarta. Para mahasiswa berunjuk rasa antimodal asing, terutama dari Jepang. Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Puncaknya, kedatangan Perdana Menteri Jepang pada Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Selain itu, unjuk rasa tersebut menjadi puncak demonstrasi kaum muda sejak pertengahan tahun 1973 yang menuntut pembubaran lembaga Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dan Asisten Presiden (Aspri), dua lembaga ekstra konstitusional yang dianggap memiliki kekuasaan luar biasa besar. Tuntutan lainnya adalah mengkritik korupsi di Pertamina dan memprotes pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).


Demonstrasi akhirnya pecah menjadi kerusuhan massa. Beberapa wilayah di Jakarta terjadi pembakaran dan penjarahan massal, seperti di Proyek Senen, pabrik Coca Cola, showroom Toyota Astra, dan sejumlah tempat lainnya. Sedikitnya sebelas orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan. Kobaran api dan gumpalan asap terlihat di beberapa wilayah ibu kota.

Aparat keamanan praktis baru mampu mengendalikan keadaan sekitar waktu magrib dan pemerintah segera memberlakukan jam malam. Sirene ambulans dan bunyi rentetan peluru petugas keamanan masih terdengar kencang sampai hampir tengah malam.

Keesokan harinya, Ketua Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar ditangkap Kopkamtib, diikuti gelombang penangkapan yang mencapai ratusan orang. Namun, hanya tiga aktivis yang dihadapkan ke meja hijau, yaitu Hariman Siregar, Syahrir, dan Aini Chalid, dengan dakwaan melakukan makar melawan pemerintah. Mereka divonis bersalah sehingga harus menjalani masa tahanan selama dua sampai empat tahun. Sementara, puluhan tokoh lainnya, seperti Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Fahmi Idris ditahan tanpa pengadilan selama satu hingga dua tahun.

Keadaan berangsur-angsur kembali menjadi normal pada tanggal 17 dan 18 Januari 1974 dan aturan jam malam pun dikurangi. Situasi keamanan yang belum sepenuhnya pulih menyebabkan keberangkatan PM Jepang pada 17 Januari 1974 pukul 08.00 dari istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara Halim Perdanakusuma.

Akibat Peristiwa Malari, Presiden Soeharto memberhentikan Jenderal Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib dan kemudian langsung mengambil alih jabatan itu. Jabatan Asisten Pribadi dibubarkan. Kepala Bakin Soetopo Juwono digantikan oleh Yoga Sugama.

Peristiwa Malari merupakan sekelumit peristiwa yang menggambarkan gerakan masyarakat Indonesia dalam menyampaikan suara hatinya. Berbagai sudut pandang dapat digunakan untuk melihat peristiwa itu. Arsip Nasional RI sebagai lembaga negara yang memiliki tugas dan tanggung jawab di bidang kearsipan secara nasional juga menyimpan khasanah arsip mengenai Peristiwa Malari dalam bentuk film/video. Khasanah arsip itu setidaknya dapat menjadi bahan kajian untuk mengungkapkan Peristiwa Malari secara lebih komprehensif.



1 komentar:

  • During the World War II, Art Deco jewellery was ugg sale a very popular style among women. The females started ugg boots wearing short dresses and cut their hair short. And uggs such boyish style was accessorized with Art Deco jewellery. They used cheap ugg boots long dangling earrings and necklaces, multiple bracelets and bold ugg boots uk rings.Art Deco jewellery has harshly geometric and symmetrical theme instead disocunt ugg boots of free flowing curves and naturalistic motifs. Art Deco Jewelry buy ugg boots today displays designs that consist of arcs, circles, rectangles, squares, and ugg outlet triangles. Bracelets, earrings, necklaces and rings are added with long ugg boots outlet lines and curves.One example of Art Deco jewelry is the Art Deco ring. Art Deco rings have ugg mall sophisticated sparkle and bold styles. These rings are not intended for a subtle look, they are meant to be noticed. Hence, these are perfect for people with bold styles.

Posting Komentar